Tugas Kesetiaan Uskup Belo (1)
image
Sejak peristiwa Santa Cruz (1991), seorang diplomat luar hanya tahu dua hal soal Indonesia: Bali dan Belo. Belo, peraih Nobel Perdamaian 1996 itu memang lantang bersuara sejak tragedi berdarah di pemakaman Santa Cruz, tak jauh dari kediamannya. Di balik itu, ia khawatir radikalisme para pemuda Timor Timur justru menjadi bumerang karena dilawan dengan tindakan represif. Sebuah generasi akan hilang. Itu berarti hilang pula orang Timtim. Berikut cuplikan dari buku From the Place of the Dead karya Arnold S. Kohen, wartawan NBC, Australia.

… Tolonglah berdoa untuk saya, sebab sekarang saya menghadapi tekanan dari dua sisi: Indonesia dan pemuda (Timor Timur) … Tentara (Indonesia) menyalahkan saya dengan mengembangkan demonstrasi-demonstrasi dan kaum muda menyalahkan saya karena menjual diri ke Indonesia, sebab saya tidak membolehkan mereka berdemonstrasi di rumah saya … (Surat Belo kepada Arnold S. Kohen pada 5 September 1993)

Demonstrasi sudah menjadi acara rutin di Timtim setiap ada kunjungan tamu. Tuntutan kemerdekaan menjadi agenda utama. Puncak demonstrasi itu adalah Tragedi Santa Cruz, 12 November 1991. Hari itu mayat Sebastiao Gomes (18) yang tewas dalam peristiwa Motael pada 28 Oktober 1991 diarak dari Gereja St. Antonius di Motael ke Pemakaman Santa Cruz.

Hanya saja ada beberapa orang yang ikut dalam arak-arakan itu dengan misi berbeda. Seorang pegawai senior gereja Katolik menyatakan, prosesi itu disusupi aktivis-aktivis muda yang membawa spanduk bertuliskan “Viva Kemerdekaan!” “Viva Timor Leste!”, dan “Viva Xanana Gusmao!” Bendera gerakan perlawanan nasionalis juga dikibarkan.

Tiba-tiba terjadi baku hantam ketika seorang mayor Indonesia dengan rombongannya yang membawa bayonet menyeberang barisan. Mayor itu berusaha merebut bendera yang dibawa seorang perempuan dengan merobohkannya ke tanah. Beberapa cerita menyebutkan, mayor itu kemudian ditusuk oleh pacar perempuan itu.

Peristiwa penusukan itu tidak menghentikan arak-arakan. Masih sekitar 800-an meter untuk sampai pemakaman. Tapi, setelah massa berkumpul – beberapa di dalam dan lainnya di luar pemakaman – tiba-tiba tentara Indonesia datang dan langsung menembakkan senjata ke kerumunan, saat doa untuk Sebastiao baru dimulai.

Ratusan orang berlarian ke rumah Belo minta perlindungan. Awalnya, Belo menolak mereka masuk karena marah tidak diberi tahu soal arak-arakan itu. Tapi ia melihat daerah itu (rumah Belo tak jauh dari lokasi) sudah dipenuhi tentara dan polisi. Tak ada waktu untuk berdebat, apalagi seorang gadis ABG dengan baju berlumuran darah mengiba, “Sembunyikan kami, atau mereka akan membunuh kami.”

Belo segera menyuruh mereka masuk. Ada sekitar 315 orang bersembunyi di rumahnya. Ia segera merawat yang terluka di klinik gereja dan kemudian memberi makanan. Ia kemudian menelepon Gubernur Carascalao untuk melihat kondisi mereka. Ia mencoba tetap bersikap tenang, apalagi setelah ibu-ibu berdatangan sambil menangis, mengabarkan bahwa anak-anak mereka dibunuh.

Tentara masih ada di pemakaman ketika ia menuju ke sana. Melihat Belo datang, banyak tentara yang segan bertemu dan segera menyingkir. Ia kemudian melihat ada bercak darah menuju kapel. Di dalam kapel ia melihat ada enam anak muda luka serius, beberapa karena pukulan, lainnya akibat luka peluru yang menganga. Belo mengenal satu di antara mereka, Thomas Ximenes, seorang guru misionaris dari Ermera.

Seruan Paus tak berguna

“Tak ada yang bisa saya lakukan kecuali memberi penguatan kepada mereka. Militer tak membolehkan lebih dari itu,” kenang Belo dengan muka menyesal. Palang merah internasional (ICRC) pun tidak boleh masuk ke kuburan Santa Cruz saat itu. Belo tak lama di pemakaman mengingat ada 315 “pengungsi” di rumahnya. Setelah kunjungan Paus tahun 1989, tentara mulai mengancam akan masuk ke halaman keuskupan untuk menangkap mereka yang mengungsi. Uskup kemudian menelepon polisi pukul 11.00 dan menerima janji mereka untuk tidak ikut turut campur.

Ia kemudian menghubungi pastor yang memiliki hubungan dengan tentara untuk meminta bantuan memindahkan pengungsi menggunakan kendaraan tentara. Antara pukul 13.00 – 18.00 ia mengantar anak-anak muda itu pulang ke rumah masing-masing. Tapi operasi penyelamatan itu ia hentikan setelah ada yang membuntuti. Ketika kembali ke rumahnya, ia menjumpai banyak anak muda yang tadi dia antar pulang, kembali ke rumahnya menghindari pengejaran tentara.

Esok harinya ia minta izin ke rumah sakit tentara. Ia sungguh kaget menjumpai orang-orang yang kemarin dia antar ke rumah masing-masing kini terbaring di rumah sakit. Ada yang luka memar karena pukulan, ada yang luka berat. Uskup Belo berdoa kepada dirinya sendiri, pelan ia berkata, “Saya harus menceritakan kengerian ini kepada dunia, tak peduli apa yang mereka lakukan kepada saya.”

Peristiwa di rumah sakit tanggal 13 November itu bukanlah akhir tragedi, tapi justru permulaan. Waktu berkunjung pertama kali, ada lebih dari 100 korban dirawat di sana. Tapi hari berikutnya tinggal 89 orang. ICRC baru boleh melihat korban Santa Cruz di rumah sakit setelah seminggu lebih kejadian itu berlalu.

Peristiwa itu membuat lembaran sejarah Timtim terisi tinta hitam. Kata-kata Paus yang baru saja berkunjung, “Saya berharap persoalan Timtim bisa diselesaikan melalui cara yang menghormati aspek-aspek keadilan, hak asasi manusia, dan hukum internasional.”

Tugas Kesetiaan Uskup Belo (2)

Santa Cruz adalah tantangan terbesar bagi keimanan dan filosofi Belo dalam kapasitasnya sebagai kepala Dioses Dili. Baginya, tragedi Santa Cruz adalah horor terbesar yang ia jumpai: banyak anak muda yang dia cintai terbunuh dan terluka. Di pihak lain, sebagai pengikut Ordo Salesian yang peduli pada pemuda, ia tidak punya daya untuk mencegahnya.

“Mengapa saya tidak diberi tahu?” tanyanya berulang-ulang. Belo akhirnya menyadari bahwa jika ia diberi tahu, pasti ia akan menghentikan aksi itu. Sama seperti dulu ketika kunjungan Dubes Amerika di Hotel Turismo.

Tragedi dan kesedihan memang menjadi bagian dari kehidupan Carlos Filipe Ximenes, begitu ia diberi nama waktu lahir. (Nama Belo ditambahkan untuk menghormati wali baptisnya, Abel da Conceicao Belo, pengajar dari misionari Portugis. Tapi, keluarga, teman, dan tetangganya memanggil Carlos Filipe.) Pada usia tiga tahun ia sudah kehilangan bapaknya, Domingos Vaz Pilipe. Waktu ia lahir pada 3 Februari 1948 pun Domingos sedang mengajar di sebuah dusun kecil, Wailakama, dekat tempat saudara-saudara dari pihak ibunya di sebuah bukit yang sekarang menjadi Bandara Baucau.

Dengan uang sedikit, Dona Ermelinda membeli tiga perkebunan dan menanam sayuran seperti selada, tomat, buncis, dan sayuran lainnya. Semua anaknya, termasuk Carlos, harus membantu ibu mereka merawat kebun. Kadang dari matahari terbit sampai malam menjelang. Toh Ermelinda mencoba memberikan kehangatan dan siraman agama, selain disiplin yang ketat. Itulah yang membuat Ermelinda sangat dihormati. “Ibu adalah orang yang paling berpengaruh dalam hidup saya,” aku Belo. Carlos dan saudara-saudaranya menjadi mandiri.

Namun, merawat lima anak dengan rentang umur 3 – 15 tahun bukanlah hal yang gampang. Hal itu disadari oleh saudara-saudara ipar Ermelinda. Mereka akhirnya ikut mengasuh dua dari mereka, salah satunya Carlos. Hal itu menimbulkan kebingungan di hati Carlos yang berusia lima tahun. Mengapa ia disuruh tinggal di tempat yang jauh? Apakah karena aku tidak bekerja keras, tidak menaati perintah, dan tidak menjadi anak yang baik? Carlos bertanya dalam hatinya. Ia sedih dan bingung saat kepergiannya.

Suka humor

Dua tahun Carlos tinggal di rumah saudaranya dari pihak ayah di Quelicai. Bagaimanapun ia rindu dengan ibu dan saudara-saudaranya. Kesempatan itu datang ketika Pastor Jacinto Campos yang dulu membaptisnya berkunjung ke Quelicai. Setelah selesai memberikan pelayanannya, Pastor Campos siap-siap pergi. Tiba-tiba Carlos lari mendekati mobil Pastor dan memegang erat kemudinya.

“Saya ingin pulang, saya ingin ketemu ibu,” bocah kecil itu meratap sambil menangis. Neneknya tak tahan melihat tangisan itu. Akhirnya, Carlos dibawa kembali ke Baucau, berkumpul kembali dengan saudara-saudaranya.

Belo kembali ke tanah tempat ia bermain. Meski harus bekerja keras membantu keluarga, Carlos merasa gembira. “Di malam hari setelah makan, kami sekeluarga berkumpul dalam kegembiraan. Kami berdoa Rosario. Ibu sering menggunakan kesempatan ini untuk memberi wejangan kepada kami, anak-anaknya. Setelah itu, kami semua bernyanyi lagu-lagu religius. Saya selalu menikmati malam-malam bersama keluarga. Sungguh sangat indah,” Belo mengenang.

Belo sangat takjub dengan keimanan ibunya. Melalui teladannya, ia menyirami bakat religius Belo sehingga menjadi kuat. Sewaktu duduk di sekolah dasar, Carlos sering menemani ibunya berjalan kaki menuju ke desa-desa untuk mengunjungi orang sakit dan sejenisnya, khususnya mereka yang anggota kelompok swadaya Katolik tempat Ermelinda mencurahkan waktunya. Keluarga itu mengikuti misa harian di gereja yang letaknya 2 km. Saat sekolah dasar, Carlos tak pernah absen untuk berdoa di sebuah kapel dekat sekolah.

Sepertinya keadaan sudah dirancang begitu rupa sehingga jalan hidup Belo adalah menjadi pastor. Kakak perempuannya ingat, ketika masih bocah, Carlos suka berlagak bak seorang pastor. Ia menyelimuti dirinya dengan pakaian tradisional Timor Timur yang disebut “lipa”, seolah-olah itu jubah pastor, dan mengucapkan kalimat, “Dominus vobiscum(Tuhan besertamu).”

Di lain kesempatan, ia berdiri di atas sebuah batu sendirian dan berpura-pura mengadakan misa; banyak anak-anak datang untuk mendengarkan apa yang ia katakan. Ia sering mengadakan “misa” dengan cara seperti itu.

Toh Carlos tak kehilangan rasa humor dan kejahilan layaknya anak-anak seusianya. Ia sering menyelinap ke luar setelah makan malam, entah sebelum atau sesudah berdoa Rosario, dan mengambil tongkat panjang untuk menakut-nakuti Julieta dan ibunya. Kadang ia memerankan adegan lucu agar ibu dan saudara kandungnya tertawa. Atau ia melempari dinding dengan bebatuan, dan kemudian tertawa, membuat mereka yang ada di dalam rumah gembira. Lain waktu, ia meniru perilaku orang lain, entah cara berjalannya, gaya bicaranya, atau gerak-gerik lainnya.

Dekat dengan anak muda

Keyakinan menjadi pastor semakin mengental setelah seorang pastor di tempatnya sekolah, Seminari St. Franciscus Xaverius di Dare, menceritakan kisah St. Franciscus Xaverius. “Saya berdoa lama sekali di dalam kapel seminari. Saya yakin, saya akan menjadi pastor,” kenang Belo. Dua bulan sebelum hari jadinya yang ke-15, Carlos memutuskan bahwa suatu hari nanti ia akan bergabung dengan ordo keagamaan.

Dona Ermelinda sebenarnya keberatan dengan niat Carlos untuk meneruskan pendidikan kepastorannya di Portugal. Ia masih trauma dengan kematian kakak Carlos di sana. Tapi Carlos membujuknya. “Karena Antonio meninggal di sana, bukan berarti saya pergi ke sana untuk mati,” katanya tegas. Pastor Alfonso Nacher juga ikut meyakinkan Ermelinda agar anaknya boleh pergi sebab ia memiliki semua kualitas untuk menjadi pastor yang baik. Carlos akhirnya bisa juga ke Portugal tahun 1968.

Semenjak kematian Antonio pada Oktober 1968, Belo menjadi satu dari beberapa orang istimewa dari Timor Timur yang belajar di Portugal. Untuk pertama kalinya ia melihat kereta api. Benar-benar guncangan yang mengejutkan. Ia rindu kampung halamannya.

Di utara kota Mogofores, sekitar 320 km utara Lisbon, Carlos menyelesaikan dua tahun kurikulum sekolah Portugis yang keras. Ia masuk kualifikasi untuk diterima di seminari utama di Manique do Estoril, daerah pantai yang cerah dengan sinar matahari dan dekat dengan Lisbon. “Sejak itu, saya merasa damai dengan segala hal yang kulakukan.” Akhir pekannya diisi dengan variasi antara olahraga, musik, dan pencerahan religius. Ia masih meneruskan hobinya bertani: pada musim libur Carlos bekerja di sawah sekitar kota kuno Evora, tempat kakak tercintanya Antonio dikuburkan.

Pelajaran praktik lebih disenangi Carlos daripada pelajaran akademis. Popularitas yang dibangun berpondasikan hobinya berolahraga serta kedekatannya dengan anak-anak muda sangat membantunya dalam kunjungan keluarga.

Banyak orang Portugis yang ateis. Meski sering ditolak, Carlos tetap mengunjungi keluarga-keluarga itu satu per satu. Mereka memang membuka pintu, tapi tanggapannya dingin. “Makanya saya kemudian melakukan pendekatan melalui anak mereka. Saya jadi akrab dengan mereka, bahkan mereka pun mengundang saya makan malam. Mereka menyuguhkan makanan dan anggur yang enak. Saya sangat senang meski tidak pernah berharap untuk berhasil. Dengan pelahan pesan-pesan saya tersampaikan. Mereka mulai berdoa dan berdoa.”

Pada 6 Oktober 1974 Carlos menjadi seorang Salesian. Sebelumnya, 25 April 1974, terjadi perubahan penting di negeri Portugal, yang dikenal dengan Revolusi April. Militer melakukan kudeta terhadap kediktatoran yang telah berkuasa selama 48 tahun. Tiupan angin perubahan itu berembus juga ke Timor Timur yang merupakan koloni Portugis. Partai-partai politik mulai bermunculan.

Tugas Kesetiaan Uskup Belo

Perubahan di Portugal membuat Amerika waswas. Rezim lama memang diktator, tapi lebih bersahabat. Sedangkan rezim baru cenderung condong ke Soviet. Di sisi lain, perang di Indocina mendekati akhir. Masa depan Asia Tenggara menjadi tak pasti. Indonesia sebagai negara yang penting di kawasan itu menjadi “mainan” Kissinger.

Antarpartai sendiri sedang mencoba menggalang koalisi. Di antaranya UDT dan Fretilin, diprakarsai oleh Ramos Horta. Sayang Jakarta meng-‘obok-obok”. Dalam kacamata Belo, operasi-operasi intelijen yang dilakukan oleh Jakarta berupaya untuk melakukan apa saja demi menciptakan chaos. “Sungguh suatu campur tangan terang-terangan yang tanpa malu. Mereka ingin menaburkan buah pahit dalam masa yang tak pasti itu,” Belo mengingat.

Chaos itu terjadi tanggal 11 Agustus 1975 ketika UDT menduduki Dili. Instalasi pemerintah mereka kuasai, termasuk peralatan komunikasi yang digunakannya untuk meminta pemimpin Fretilin menyerah. Fretilin yang didukung oleh tentara Portugis asal Timtim tentu saja tak bisa digertak. Pertempuran pun pecah, terutama di pedalaman. Ketika tentara-tentara pendukung Fretilin keluar barak, UDT terdesak. Pertempuran pun tak seimbang dan Fretilin bisa mengambil alih Dili pada 20 Agustus. Granat dan mortir beterbangan di langit saat Belo ada di dermaga sedang menunggu boatyang akan membawanya pulang ke Fatumaca melalui Baucau. Jalan melalui darat akan sangat berbahaya.

Perang saudara antara UDT dan Fretilin, menurut Palang Merah Internasional (ICRC) telah memakan korban 1.500 orang. Perang itu sendiri konon tidak lepas dari campur tangan Jakarta melalui propaganda yang mereka lancarkan seperti mencap Fretilin sebagai komunis maupun cerita bohong adanya keterlibatan militer Cina dan Vietnam dalam perang itu. Sementara itu, Jakarta juga menyabotase setiap tawaran perdamaian dengan menolak masuknya Portugis sebagai mediator. Gereja, yang tidak bisa berpolitik, tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali berusaha mencegah terjadinya invasi oleh Indonesia.

Karena melalui laut tidak bisa, Belo akhirnya memutuskan untuk keluar dari Timtim melalui darat. Melalui kota Maliana ia dan rombongannya, biarawati-biarawati Dominikan dan beberapa pastor, masuk ke perbatasan Indonesia yang diyakini sebagai jalan keluar dari pertempuran. Perjalanan itu sendiri perjalanan yang sulit dalam panas musim kemarau. Di perbatasan itu pun telah terkumpul sekitar 20.000 pengungsi.

Akhirnya, para pengungsi dikumpulkan di Atambua di bawah penjagaan militer Indonesia. Ketika gubernur Timor Barat berkunjung, para pengungsi diharuskan bersorak-sorai dan meneriakkan slogan pro-Indonesia.

Ia berada di Atambua selama sebulan, sebuah periode yang cukup untuk mempelajari bahasa Indonesia. (Setelah ia pergi, kebrutalan meningkat karena jatah makanan pengungsi disunat akibat mereka menolak menyatakan mendukung penyatuan ke Indonesia.) Karena tidak mungkin untuk kembali ke Dili atau Fatumaca, atasannya di Ordo Salesian menyuruhnya untuk melanjutkan sekolah di luar negeri. Dengan bantuan Uskup Atambua, ia menuju Makao.

Di Makao itulah, melalui Radio Makao, Belo mendengar invasi Indonesia atas Timor Timur. Dengan kesedihan mendalam ia berkata pada dirinya bahwa Timor Timur telah kehilangan kesempatan untuk merdeka selama-lamanya. “Saya berpikir akan banyak kesulitan yang harus dihadapi Timor Timur.” Ia lalu berdoa berjam-jam ditemani dinding-dinding sekolah Don Bosco. Benaknya memikirkan kepedihan yang akan “menaungi” rakyat Timtim.

Kepedihan itu telah mulai bersamaan dengan invasi itu sendiri. Dalam skala kecil, invasi itu bisa dibandingkan ketika Jepang “memperkosa” Nanking akhir 1937 sampai awal 1938. Belo memperkirakan ada sekitar 250.000 lebih jiwa yang meninggal. Seorang pastor di Dili menyatakan, dalam hari pertama invasi, ada 2.000 orang, termasuk 700 orang Cina, ditembak. Gereja menjadi tempat persembunyian yang relatif aman. Para wanita mendatangi rumah uskup untuk mencari perlindungan.

Berita tentang invasi itu sendiri terhambat karena adanya upaya penggelapan fakta. Wartawan yang meliput langsung masuk perangkap tentara, ke mana-mana selalu dikawal dan hanya boleh meliput tempat-tempat tertentu. New York Timesbaru memuat masalah itu dalam editorialnya tanggal 24 Desember 1979. Mereka kemudian mengirim wartawan James M. Markham yang telah berpengalaman meliput di Vietnam, untuk bertemu dengan para pengungsi yang berada di Portugal. Setelah dijamin kerahasiaannya, para pengungsi itu mau berbicara. “Saya merasa seperti kembali ke Saigon,” simpul Markham. Dili bagaikan kota penuh teror yang dikelilingi mata-mata dan informan, ungkap seorang pengungsi. Seorang pengungsi wanita menambahkan bahwa setiap orang ingin angkat kaki. “Inilah negeri setan.”

Bantuan kemanusiaan baru bisa masuk pertengahan 1979. Tidak banyak yang bisa diperbuat terhadap puluhan ribu penduduk, mungkin 200.000 atau lebih. Pada akhir 1979 ICRC membandingkan kondisi di Timtim dengan kondisi di Biafra dan Kamboja, dua tempat ketika krisis kemanusiaan buruk terjadi dalam sejarah modern. Kepala Catholic Relief Service (LSM berbasis di Amerika) perwakilan Timor Timur menyatakan, inilah persoalan berat yang dihadapi selama 40 tahun berkecimpung dalam membantu umat manusia.

Tugas saya adalah kesetiaan.

Kondisi trauma psikologis seperti itulah yang dihadapi Belo ketika ia kembali ke Timtim akhir Juli 1981. “Kini rakyat mengalami penindasan tanpa ujung, hak-hak mereka tidak diakui. Rakyat tidak memiliki suara dan hidup dalam ketakutan,” begitu pengakuan sebuah lembaga keagamaan dalam dokumen refleksi menyambut kedatangan Belo.

Trauma akibat invasi memang dalam. Seperti yang dituturkan Monsignor Martinho da Costa, apostolic administratorTimtim (karena masih berstatus belum pasti, Timtim langsung di bawah kendali Vatikan). “Gereja Katolik, menempuh semua risiko, melaporkan kepada dunia peristiwa yang terjadi selama pengepungan empat hari di dekat Rock of St. Anthony di Lacluta dengan jumlah korban lebih dari 500 orang Timtim terbunuh.” Martinho juga menulis surat perihal yang sama kepada temannya di Australia.

Surat itu membuat Martinho diganti. Awal tahun 1983, Paus Yohanes Paulus II memilih Carlos Filipe Ximenes Belo, yang masih muda (baru dua tahun ditahbiskan) dan belum memiliki pengalaman mengatur jemaah gereja, sebagai penggantinya. “Semoga aku bisa mempertanggungjawabkan apa yang kuputuskan hari ini di hadapan Tuhan,” kata Paus waktu memilih Belo.

Gebrakan pertama Belo adalah memakai bahasa Tetum untuk perayaan misa (sebelumnya pakai bahasa Indonesia). Ia juga sering berkomentar dan mengeluarkan pernyataan yang membuat merah kuping penguasa Jakarta. Juga tentang dilarang masuknya ICRC. Belo sendiri dilarang memberikan ekaristi bagi napol. Surat itu berimbas ke Amerika. Ketika George Shultz (waktu itu Menlu AS) berkunjung ke Jakarta, ia bilang kepada Menlu (waktu itu) Mochtar Kusumaatmadja bahwa surat Belo berpengaruh terhadap kongres dan Paus. Indonesia pun menyalahkan Belo.

Ketika diwawancarai Michael Richardson dari The Age (harian Melbourne, Australia) yang dipublikasikan 16 Juli 1984, Belo berkata tegas, “Saya siap dipindah jika itu harga dari memperjuangkan HAM dan hak-hak rakyat Timor Timur. Kebenaran harus diungkap.” (Di kemudian hari, ketika ada isu ia akan dipindah oleh Vatikan, Belo kembali berkata, “Segala kemungkinan bisa terjadi. Itulah kalau politik dan diplomasi masuk ke urusan soal agama. Dan uskup bisa dipindah atas saran penguasa. Jika mereka mengirim saya ke Afrika, saya akan pergi ke Afrika. Jika mereka menyuruh saya ke neraka, saya akan segera ke neraka. Tugas saya adalah kesetiaan.”)

Dalam wawancara itu, yang juga dimuat di Washington Post, wali gereja Timtim ini menyatakan bahwa situasi Timtim sangat kritis, dengan operasi tentara Indonesia yang meneror rakyat dalam upaya melawan Fretilin dan orang yang disangka simpatisan Fretilin. “Rakyat Timtim menderita karena militer Indonesia di satu sisi, dan karena Fretilin di sisi lain.” Belo menambahkan, “Tapi saya tidak berpikir Fretilin adalah komunis. Aspirasi nyata mereka adalah untuk penentuan nasib sendiri. Tapi semua orang yang ingin menentukan nasib sendiri di Timor Timur dicap komunis oleh penguasa Indonesia.”

Tugas Kesetiaan Uskup Belo

Beberapa bulan setelah kunjungannya ke Italia untuk memperingati 100 tahun meninggalnya Don Bosco, Belo menerima promosi. Promosi itu menempatkannya sebagai orang lokal pertama yang menjabat sebagai Uskup Dioses Dili. Upacara yang berlangsung pada 19 Juni 1988 itu sungguh sulit dipercaya bagi Dona Ermelinda.

Babak baru dalam kehidupan Belo sebagai uskup segera dimulai. Pernyataanya yang dimuat New York Time 22 Januari 1989, dengan headline-nya “Bishop Says Indonesia Tortures in East Timor” menunjukkan ke arah mana ia akan berjalan.

Belo – yang menguasai beberapa bahasa asing – segera menulis surat ke Sekjen PBB, Javier Peres de Cuellar. Intinya mengharap proses dekolonialisasi di Timtim harus melibatkan rakyat Timtim. Dijelaskan juga bahwa Indonesialah yang bilang bahwa rakyat Timtim memilih integrasi. Rakyat sendiri tidak pernah mengatakan hal itu. Di akhir suratnya, ia memberi jalan alternatif terbaik: REFERENDUM bagi rakyat Timtim di bawah kendali PBB. Meski sudah dikirim dari luar Timtim, toh surat itu bisa bocor juga. (Surat itu sendiri dibalas setelah lima tahun.)

Mengingat surat itu bisa berdampak buruk bagi institusi gereja, Dubes Vatikan Uskup Agung Francesco Canalini menyatakan bahwa surat itu adalah prakarsa pribadi Belo yang tidak mewakili kebijakan Gereja. Surat ke Sekjen PBB itu juga menempatkan Belo sebagai satu-satunya uskup Katolik yang melewati batas kewenangan. Canalini pun mengirim surat ke Belo untuk menarik kembali apa yang telah ia tulis ke Sekjen PBB.

Konflik dengan Roma membuatnya sakit hati. Ia memang termasuk anggota Gereja Katolik, tapi melihat kesewenang-wenangan dan penindasan, hati nuraninya berontak. Andaikata tidak ada konflik di Timtim, Belo mungkin puas dengan mengajar sekolah dan mengorganisasi kegiatan anak muda. Tetapi, rakyatnya terancam dan uskup tidak bisa acuh begitu saja. Uskup dan pastor bisa bersuara, namun rakyat kebanyakan tidak. Jika mereka bicara, mereka akan berhadapan dengan interograsi atau penyiksaan. Risiko memang mengancamnya, termasuk nyawa.

Percobaan pembunuhan terhadap Belo nyaris terjadi pada Juli 1989 ketika sedang dalam perjalanan untuk kotbah di Baucau. Teror itu memuncak ketika mendekati kedatangan Paus Yohanes Paulus II. Kunjungan yang berlangsung tanggal 12 Oktober 1989 itu diwarnai unjuk rasa para pemuda yang menyerukan, “Hidup Paus. Hidup kemerdekaan.

Tertekan oleh radikalisme pemuda Timtim

Pemuda Timtim, yang kebanyakan kehilangan orang tua atau kerabat saat proses integrasi, semakin radikal. Mereka selalu memanfaatkan momen seperti kunjungan orang luar untuk berdemonstrasi. Termasuk kunjungan Dubes Amerika, John Monjo. Belo marah sekali melihat ulah itu. “Kamu tidak memiliki senjata, kamu tidak memiliki cara untuk melindungi dirimu sendiri, kamu hanya akan mendapatkan dirimu terbunuh! Pulang, aku bilang, pulang!”

Di mata pemuda, Belo dinilainya terlalu lemah. Ia sudah tua dan lunak. Uskup telah menjual dirinya kepada Indonesia. Mungkin ada orang lain yang bisa melakukan tugasnya dengan baik. Belo menjawab hal itu dengan berkata, “Baiklah, kamu yang mengurusi dioses, saya akan pergi ke gunung!” Ia pun meneteskan air mata, trenyuh dengan sikap “grusa-grusu” mereka. Ia kemudian menekankan bahwa ia hanyalah orang gereja, bukan gerilyawan, militer, atau agitator, dan ia tidak mendukung cara konfrontasi mereka.

Tapi, “Saya benar-benar tertekan ketika anak-anak muda ini dibawa pergi, diinterograsi, dan disiksa. Keberanian dan kekuatan mereka untuk melawan membuat saya terkesan. Mereka bilang, ‘Tak menjadi soal kami menderita dan meninggal. Ini negeri kami!'” ratap Belo tahun 1994. “Kadang-kadang sebagai uskup saya harus berkata kasar kepada mereka sebab bagi saya lebih penting mereka tidak disiksa, dipukul, dilukai, dan dibunuh. Jika generasi muda ini hilang, maka di kemudian hari kami tidak memiliki orang untuk membangun Timtim,” kata Belo.

Upayanya mencari perdamaian bagi tanah kelahirannya membuat tokoh-tokoh yang bergiat dalam kemanusiaan mencalonkannya sebagai peraih Nobel. Di antara pengusul itu tercatat Uskup Afrika Selatan Desmond Tutu dan aktivis HAM Irlandia Maired Maguaire. Belo akhirnya meraih Nobel Perdamaian 1996 bersama Jose-Ramos Horta

Ketika kabar itu muncul, Belo sedang mengadakan Misa Terima Kasih di Komoro. Setelah selesai kotbah, ia melanjutkan “Doa Aku Percaya” ketika tiba-tiba seorang pastor mendatanginya dan menyerahkan secarik kertas berisi kabar ia meraih Nobel Perdamaian bersama Ramos Horta. Tanpa ekspresi terkejut, bahkan tersenyum pun tidak, kertas itu dimasukkan ke sakunya dan ia melanjutkan misa lagi. Ia menyerukan kepada rakyat Timtim, terutama kaum muda, untuk tidak merayakan penghargaan itu.

Ucapan selamat atas penghargaan Nobel datang dari berbagai penjuru dunia, kecuali Amerika. (Sejak invasi, kebijakan Amerika cenderung mendukung Indonesia.) “Saya berharap hal ini akan melindungi Anda untuk bekerja lebih giat bagi perdamaian di Timor Timur … melanjutkan bekerja bersama rakyat dengan antusiasme yang sama, dengan iman yang sama, dan dengan loyalitas yang sama,” kata Paus Yohanes Paulus II saat memberikan ucapan selamat. Shared by ds