SPG: Si Ujung Tombak Penjualan

image

Perempuan-perempuan muda berparas cantik itu berjajar di depan stan. Mereka bergantian memberikan selebaran. Senyum manis tak pernah luput dari mimik mereka. Namun, sesekali raut muka kecut pun terlihat. Sales Promotion Girlsalias SPG, si ujung tombak penjualan ini boleh dibilang sebagai “pemanis” agar calon pembeli mau menyambangi stan mereka. Kalau tak ada mereka, bisa-bisa penjualan tak laku.

Kira-kira begitulah rutinitas SPG dalam kesehariannya bekerja. SPG bertugas mempromosikan atau sekaligus menjual produk dari klien. Kadang, ada target. Mereka berangkat pagi, seharian berdiri dan menawarkan produk, kemudian pulang malam. Kostum yang acap kali sudah ditentukan klien pun mereka gunakan. Pameran-pameran tertentu atau roadshow di mall-mall menjadi tempat kerja mereka.

SPG, begitu banyak rumor yang beredar di masyarakat mengenai citranya. Ada orang yang beranggapan bahwa pekerjaan SPG hanyalah bermodal “tampang” saja. Pun, muncul istilah SPG “nakal”. Tapi, satu hal yang pasti. Menjadi SPG itu tidak mudah dan memerlukan keterampilan.

Laris oleh anak kuliahan

Boleh dibilang, pekerjaan sebagai SPG menjadi semacam “incaran” anak kuliahan. Mereka bisa mendapatkan tambahan uang dengan pekerjaan yang tak perlu prioritas latar pendidikan itu, apalagi indeks prestasi. Tapi, tidak menutup kemungkinan bagi selain mahasiswa. Asal terampil berkomunikasi, punya penampilan menarik, dan punya waktu luang, tentunya ditambah keberuntungan. Maka, bisa lah dia menjadi SPG.

Marella, misalnya. Perempuan yang akrab disapa Lala itu bertutur bahwa dirinya mulai berkecimpung di dunia SPG sejak 2006 hingga 2009. Saat itu dia masih duduk di bangku kuliah. Mungkin sama dengan kebanyakan orang, keputusannya menjadi SPG, salah satunya untuk menambah uang jajan. “Waktu itu saya coba. Sekali dua kali lumayan menghasilkan hingga akhirnya ‘keterusan’,” terangnya. Selain menambah uang jajan, Lala juga mendapatkan pengalaman, terutama dalam bidang penjualan.

Senada dengan Lala, Emmanuella P.Ningtyas mengamininya. Emma, begitu sapaannya, masuk ke dunia SPG dari tahun 2005 sampai 2008. Tentu saja karena dulu masih ada kesibukan kuliah, mereka menerima tawaran ketika ada waktu luang saja.

Banyak pengalaman, koneksi didapat

Banyak pengalaman itu bisa diartikan juga banyak teman atau koneksi. Koneksi ini akan sangat berguna ketika kita hendak melangkah ke jenjang dunia kerja. Diakui Lala, dengan bekerja sebagai SPG dirinya menjadi kenal dengan banyak orang, termasuk dari perusahaan yang pernah menjadi kliennya. Dari situ, Lala mendapat koneksi dengan berbagai perusahaan. Ujungnya ya bisa memudahkannya mendapat tawaran kerja.

Pernah suatu kali saat Lala menjadi SPG suatu produk. Seperti biasa, dia menawarkan produk kepada calon pembeli. Lala pun menjelaskan produk tersebut dengan detil dan bagus. Tak ayal, calon pembeli kepincut. Sungguh tak diduga, calon pembeli tersebut berasal dari bagian marketing sebuah perusahaan.

“Dia malah menawarkan saya kerja di perusahaannya karena saya bagus menawarinya,” kenang Lala. Beberapa kali ditawari, semisal menjadi public relation di restoran hingga marketing promotion di sekolah. Sayangnya, mereka membutuhkan pekerja penuh, bukan paruh waktu seperti Lala ketika itu. Alhasil, ya kesempatan itu dilewatkannya.

Tapi, setidaknya pengalaman itu membuktikan bahwa menjadi SPG itu pun punya banyak nilai positif. Belum lagi bila sudah terjun ke dunia tersebut dan kenal dengan sesama SPG, informasi tentang pekerjaan selanjutnya tentu akan lebih mudah didapat.

Bahkan, Lala sering mendapatkan informasi tawaran kerja dari sesama SPG atau agency tempat dirinya bernaung. Agency ini, memang kerap menjadi sandaran para model atau SPG untuk mendapatkan pekerjaan. “Untungnya ikut dalam agency itu tak perlu susah mencari. Plus, lebih mudah lolos seleksinya,”
Memang betul, untuk menjadi sales promotion girl (SPG) salah satu syaratnya adalah penampilan fisik yang oke. Kalau tidak oke, bagaimana calon pembeli bisa tertarik mendekati stan? Itu pula yang dikatakan Lala, salah seorang SPG.

Tak bermaksud mengeksploitasi, toh perempuan dianugerahi fisik indah sedemikian rupa bisa menarik perhatian orang lain. “Kalau kriteria memang sudah ada. Misalnya tinggi minimal atau penampilan tertentu,” ujar Lala. Beberapa perusahaan yang ingin menggunakan jasa SPG pun kadang hanya melihat penampilan fisik si SPG.

Namun, ada pula perusahaan yang betul-betul menjaga kualitas. Misalnya, di samping penampilan fisik yang menarik, calon SPG juga harus lulus tes ujian dari perusahaan tersebut. Lagi-lagi, itu relatif. Semakin bagus perusahaannya, tentu akan semakin selektif.

Meskipun berpenampilan menarik seperti menjadi sebuah keniscayaan, toh seorang SPG pun harus bisa ramah, pintar berbicara, berkepribadian baik, dan menguasai produk yang ditawarkan. Intinya, semua kelengkapan itu mau tak mau harus dimiliki SPG.

Terkait dengan itu, seorang SPG memang harus komunikatif. Mana boleh SPG hanya berpenampilan menarik, tapi tak pandai berkomunikasi dengan calon pembeli. Alih-alih mendekat, calon pembeli bisa kebingungan dan menjauh. Kemampuan inilah yang menjadi kelebihan bagi kaum hawa. Menurut Lala, perempuan lebih mumpuni dan luwes dalam menjelaskan produk ketimbang laki-laki. Meskipun, ada pula laki-laki yang mahir “bercakap-cakap”.

Tampilan fisik tadi, entah mengapa kebanyakan orang yang terjun ke dunia pemasaran – terutama penjualan langsung di stan – adalah perempuan. Kembali lagi, kodrat perempuan yang diciptakan “lebih indah” ketimbang laki-laki bisa jadi salah satu alasannya. Seorang SPG lain, Emma, pun menanggapinya dengan enteng, “Karena siapa pun juga, baik laki-laki maupun perempuan lebih senang melihat perempuan di bandingkan laki-laki.”

Tantangan datang silih berganti

Ada orang yang menganggap pekerjaan sebagai SPG adalah pekerjaan yang ringan dan hanya modal “tampang”. Atau, sekedar bercuap-cuap. Salah! Tak ada pekerjaan yang ringan. Semua punya konsekuensi, termasuk menjadi SPG. Target-target yang ditentukan si empunya klien kadang menjadi beban tersendiri bagi SPG. Untuk itu, Lala mengaku dirinya lebih sering menerima tawaran kerja sebagai SPG yang hanya bertugas menawarkan. Target penjualan menjadi urusan sales kliennya itu.

Bila SPG ikut dituntut untuk memenuhi target penjualan, yang paling riskan adalah ketika harus bersaing dengan teman sendiri. Misalnya, ada empat orang yang diberi target penjualan. “Kadang ketika ada calon pembeli, kita bisa rebutan juga,” tutur Lala. Namun, Lala berprinsip, “Jangan sampai ‘bergesekan’ karena dalam dunia kerja yang penting adalah suasana kerja.”

Nah, dari semua itu, mungkin inilah yang paling identik dengan SPG. “Susahnya karena capek harus selalu berdiri dan aktif berbicara,” ujar Lala. Benar juga. Para SPG itu harus terus berdiri di depan stan mereka sepanjang shift. Padahal, satu shift bisa 6 hingga 9 jam! Belum lagi kalau harus long-shift – kisaran 11 jam – seperti di pameran-pameran. Kaki bisa pegal tentunya, ditambah dengan sepatu dengan hak tinggi yang dipakainya.

Meskipun menjadi SPG itu tak mudah, bila sudah menjadi pilihan seharusnya bisa dijalani dengan senang hati. Seperti kata Emma, “Menjadi SPG ini memang kemauan sendiri. Kalau dibawa fun pasti tidak terasa berat.”

Beban citra negatif

Tak dimungkiri, pekerjaan sebagai SPG tak henti dari pandangan negatif. Citra ini, menurut Lala, terbangun karena umumnya SPG difungsikan sebagai “pemanis” stan. “SPG ‘kan pakai baju-baju yang menarik atau eye-catching. Mungkin dari sana awalnya,” paparnya. Kostum yang kadang minim, yang dipadupadankan dengan wajah ayu, tentu bisa menggoda kaum Adam.

Malahan, tambah Lala, kadang mereka itu sengaja datang dan bertanya sekadar iseng. Padahal ya, tidak berniat membeli. Ujung-ujungnya, mereka hanya ingin minta nomor telepon si SPG. Lala pun mengaku pernah mengalaminya. Lala menanggapinya justru dengan memberikan nomor telepon sales kliennya itu. Bahkan, menurut Lala, ada orang yang ke pameran sengaja membawa kamera hanya untuk berburu foto SPG.

Lala dan Emma paham betul dengan lingkungan kerja yang seperti itu. Mereka pun semakin tahu, mana calon pembeli yang serius dan mana yang tidak. Bila ada calon pembeli yang iseng, mereka tidak akan intens melayaninya. Pernah pula, Lala diajak makan oleh konsumennya dengan tendensius yang negatif. Rasa kesal pasti ada. Tapi, lagi-lagi, Lala dan Emma harus memakluminya karena itulah risiko pekerjaan mereka.

Dengan adanya beberapa pandangan negatif terhadap pekerjaan SPG, Lala dan Emma berharap bahwa itu tak akan terjadi lagi. Juga, tak memandang sebelah mata pada pekerjaan ini. S eperti kata Emma, “People always judging from the cover, not what is in the inside.”

Shared by DS